Gadis
itu berjalan melewati koridor sekolah sambil memegang sebuah buku bacaan. Gadis
itu bernama Sofia, ia gadis yang sangat periang di sekolah. Ia seorang gadis
yang baik hati, rajin dan ramah pada semua orang. Ku diam-diam mengamati gadis
itu dari kejauhan. Ku sangat mengagumi sosok itu, yah ku hanya sebagai pegagum
rahasianya. Bukan hanya parasnya yang cantik membuatku jatuh hati padanya,
namun tutur katanya yang lembut dan perangainya yang baik membuatku semakin
menyukainya.
Bel
Sekolahpun berbunyi menandakan pelajaran pertama pak Andri guru pendidikan
kewarganegaraan akan masuk di kelasku. Ku segera masuk kedalam kelas, tempat
dudukku berada paling pojok disamping jendela. Aku sengaja memilih tempat duduk
disitu agar ku bisa melihat Sofia, kebetulan kelasnya tepat berada didepan
kelasku. Ku buka horden yang berwarna biru itu, ku layangkan pandanganku
didepan kelas itu berharap sosok yang ku tunggu berada disana. Tuhan menjawab
doaku, gadis yang ku sukai itu duduk di kursi di depan kelas XII IPA 1. Ia
selalu memegang buku bacaannya, hobby gadis itu memang membaca. Semua habis
dilahapnya, entah komik, novel, berita dan puisi sering ia lahap. Sofia terkenal di sekolahnya karena ia
memang sering mengikuti olimpiade yang diadakan oleh sekolah ataupun dari luar.
Ia sering menjuarai olimpiade itu. Kemenangan yang ia raih tidak membuat
dirinya sombong akan kemampuan yang dimilikinyaa. Ku terlarut dalam kehidupan
sofia, tak sadar seorang anak lelaki mendekatinya. Anak lelaki itu adalah Ben,
pacar Sofia. Mereka telah pacaran selama 1 tahun, ku masih memandangi mereka
dari kejauhan. Ku merasakan sakit saat melihat sofia bermesraan dengan Ben
didepan kelas XII IPA 1. Terlihat sangat jelas kebahagiaan yang mereka rasakan,
sesekali sofia merebahkan kepalanya dipundak Ben, membuatku semakin cemburu. Ku
kembali mencoba memperhatikan Pak Andri yang sibuk menjelaskan undang-undang
dan pasal-pasal yang membuatku bosan mendegarnya.
Sofia,
seandainya kau tahu kalau selama ini aku menyimpan rasa terhadapmu. Sudah lama
ku memendam rasa ini, ku ingin sekali mengungkapkannya kepadamu agar perasaanku
lega. Tetapi, sebelum ku mengungkapkan hal itu, kau telah berpacaran dengan
Ben, ketua basket di sekolah kita. Aku tahu, ia anak yang terpopuler di Sekolah.
Jika dibandingkan denganku, aku bukanlah apa-apa. Mungkin ku sudah di takdirkan
untuk menjadi pegagum rahasiamu, hanya bisa memandangimu dari kejauhan tanpa
bisa berkomunikasi langsung denganmu. Bahkan kamu mungkin belum mengenalku,
karena aku tidak sepopuler Ben. Seandainya kamu jadi pacarku, aku tidak akan
menyia-nyiakan kamu Sofia. Aku akan selalu menjagamu, berada di sampingmu saat
engkau merasa dunia ini tak ingin mendengar segala curahan hatimu.
*****
Hari berlalu seperti biasanya, ku
jalani hidupku dengan kebiasaan mengamati dirimu. Hari ini ada yang berbeda
dari dirimu, senyuman yang indah itu kini telah menghilang. Apa yang terjadi
kepadamu? Aku bertanya-tanya dalam hati sambil memperhatikan dirimu. Hari ini
sangat berbeda seperti biasanya. Aku tidak tahu apa yang membuatmu bersedih
Sofia. Setelah ku menyelidikinya, ternyata Ben pergi ke Amerika karena harus
mengikuti ayahnya yang berkerja disana. Aku tahu pasti kamu merasa sakit dan
sedih ditinggal pergi oleh orang yang kita cintai. Aku mencoba mendekatimu,
berusaha untuk menghibur dirimu agar kau tidak bersedih lagi karena kepergian
Ben ke Amerika. Seiring bergulirnya waktu, kita sudah semakin akrab. Aku dengan
setia mendengar semua curahan hatimu. Aku semakin penasaran tentang
kehidupanmu. Ternyata kau orang yang benar-benar tegar. Diluar sana kau
menyembunyikan segala beban yang ada di pundakmu, aku baru menyadari ternyata
kau sangat rapuh ketika engkau menyendiri.
*****
Seperti biasa ku berangkat ke
sekolah, pagi ini diawali dengan hujan yang mulai gerimis. Aku mempercepat
langkahku agar seragam sekolahku tidak basah. Namun saat ku berlari menuju
gerbang sekoah, mataku tertuju pada sosok itu yang sedang melamun di halte
depan sekolah. Ku melangkahkan kakiku ketempat itu, ternyata dia Sofia. Ada
yang berbeda, sebuah butiran airmata masih melekat di pipi itu. Airmata, yah
tidak salah lagi. Sofia pasti menangis. Aku duduk disampingnya, bertanya
tentang keadaannya. Lalu, gadis itu merebahkan kepalanya ke pundakku, aku
terkejut dengan reaksi Sofia. Aku bertanya kepadanya apa yang sedang terjadi
kepadanya. Ia hanya menangis sangat histeris, seakan bibirnya enggan untuk
berbicara. Aku hanya diam membisu, melihat sofia yang hanya menangis. Aku ingin
memeluknya, namun aku tidak berani. Gadis itu tetap tak ingin berbicara, ia
melampiaskan semua masalahnya dengan tangisan. Hujan telah reda, aku membujuk
Sofia untuk berhenti menangis dan pergi ke sekolah. Ku memberikan sapu tangan
yang lembut itu kepadanya, ia mengambilnya lalu mengusap air mata yang membuat
matanya sembab. Kami pun beranjak pergi dari halte, menuju ke dalam kelas.
Akupun berpisah dengannya. Sampai saat ini aku hanya menjadi pegagum
rahasianya, aku tidak berani mengungkapkan perasaan ini. Aku takut jika
persahabatan ini harus berubah jadi benci. Aku akan selalu menjadi pengagum
rahasiamu, Sofia.
Komentar