Iam Titanium


Panas matahari sedang dipuncaknya hari ini. Mungkin ia telah melewati batas kulminasinya. Namun, hari yang cerah ini tak secerah hatinya. Dia melakukan tugas dari dosennya hingga tengah malam. Hasilnya, ia memiliki lingkaran hitam dibawah matanya seperti panda. Namanya adalah Luna. Dia adalah kakak dari dua orang saudara kembarnya. Dia belajar disalah satu universitas terkenal.
Tubuh mungilnya dibaluti kaos merah muda dengan jeans senada. Dia berjalan melalui gang kecil menuju kampus dengan tas punggung kesukaanya. Itu telah menjadi ciri khasnya. Dia tipe gadis yang tak terlalu mengikuti perkembangan fashion. Sekilas wajahnya terlihat cantik dengan tahi lalat di pipi kanannya.

Read More
Setelah ia tiba di kampus, dosennya telah berada didalam kelas. Untungnya, dia hanya terlambat 10 menit. Ia juga menjadi orang terakhir yang menampilkan karyanya. Karyanya tentang cerita yang mengesankan dalam hidup mahasiswa. Kemudian, gilirannya pun telah tiba. Dia berdiri didepan kelas dan memulai ceritanya.
4 tahun yang lalu,
Cahaya matahari memasuki rongga-rongga jendela kamarku sebagai tanda bahwa pagi telah tiba. Tapi, badanku menolak untuk bangun dari tempat tidur. Bahkan pikiranku tak rela untuk meninggalkan dunia mimpi. Lalu, suara lembut milik wanita separuh baya yang selalu ku panggil dengan “mama” membuatku terbangun.
Dia berkata “Kau lebih baik cepat bangun jika kau tak ingin terlambat datang ke sekolah, sayang”.
Dalam keadaan setengah sadar, aku berdiri menuju kamar mandi untuk bersiap ke sekolah. Hanya butuh waktu 10 menit aku telah berpakaian rapi. Tapi, hari ini ternyata bukan hanya aku seorang yang telah siap ke sekolah. Kedua saudara kembarku telah selesai dengan sarapan mereka saat aku tiba didapur. Aku mengambil sepotong roti berisikan selai cokelat dan segelas susu sebagai sarapanku pagi ini. Karena takut terlambat, aku tidak mempunyai kesempatan untuk menghabiskannya dan segera berangkat ke sekolah.
10 langkah dari rumah, aku tersadar bahwa aku belum melihat papaku sejak semalam. Sebelum berangkat ke sekolah, saya selalu berpamitan dengannya. Aku piker dia mungkin memiliki banyak pekerjaan di kantor. Lonceng berbunyi, tanpa ku sadari aku telah sampai di depan gerbang sekolah bertuliskan “SMA Nusantara”. Aku memasuki sekolah dengan menucapakan bismillah sambil berharap guru matematikaku tak mengingat tugas yang ia berikan. Karena aku belum mengerjakannya.
            Bel berbunyi dua kali. Itu sebagai tanda bahwa sekolah telah selesai. Wajah murungku menemaniku sepanjang jalan kerumah. Alasan mengapa wajahku seperti itukarena ternyata, guru matematikaku mengingat tugas yang ia berikan. Karena belum ku selesaikan, alhasil aku dihukum dengan mengitari lapangan sekolah 10 kali dibawah panas matahari yang membakar kulitku. Hal itu membuatku jengkel seharian.
Di rumah, aku mengganti seragam dengan kaos hello kitty kesukaanku. Aku mencoba untuk melupakan kejadian di sekolah. Ku tutup mataku dan mulai merangkai mimpi. 3 jam telah berlalu, aku dibangunkan oleh suara adzan ashar. Alasan lain adalah karena perutku yang telah memanggil-manggil untuk diisi. Hal itu menggiringku ke dapur. Kemudian aku sadar, sejak tadi aku belum melihat mamaku. Setelah menyelesaikan makananku, aku pergi ke kamar saudaraku.
Aku berkata “Dimana mama?”
Adikku menjawab, “Aku tak tahu kak.” Tanpa melihat ke arahku.
Lalu aku menuju rumah nenekku untuk mencarinya. Rumah nenekku tepat berada disebelah rumahku. Saat aku tiba, aku mendapati nenekku duduk didepan tv menyaksikan drama remaja.
Aku menghampirinya dan bertanya, “nenek lihat mama? Aku tak menemukannya dimanapun”.
Dia berbalik kearahku dan berkata. “Aku tak melihatnya hari ini.”
“Kemana ia pergi?” Aku berkata setengah berbisik dengan nada khawatir.
Nenekku tak bisa mendengarnya karena ia mempunyai masalah pendengaran. Aku meninggalkannya dan kembali ke rumah. Saat aku tiba, aku menemukan papaku diruang tamu. Dia duduk dengan wajah yang tak bisa ditebak.
“Ada apa pa? Dimana mama?” kataku dan duduk disebelahnya.
Tapi, ia menjawab pertanyaanku dalam diam.Saat aku tak mendapat jawaban, aku sadar bahwa ada sesuatu yang salah.
Aku menggoyang badannya dan berkata, “Jawab aku pa. Dimana mama?”
Lalu, ia membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaanku dengan kata-kata yang merubah hidupku.
“Mamamu telah pergi. Ia tak akan kembali lagi sayang.” Ia berkata dengan tujuan untuk tak menyakitiku.
Sambil aku mencoba menahan air mataku, aku berkata, “Kenapa pa?”
Ia memegang lenganku dan berkata, “Jangan Tanya alasannya sayang.” Suara gemetarnya menusuk hatiku.
Tanpa butuh waktu lama, tetesan airmataku akhirnya terjatuh. Lalu, ia mengatakan padaku untuk bertahan dan tetap kuat. Sebagai yang tertua didalam keluarga, aku sadar bahwa aku harus menjaga adik-adikku. Memberikan penjelasan kepada mereka adalah salah satu hal yang harus aku lakukan. Lalu, aku berdiri, menghapus air mataku dan menuju kamar mereka. Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya pada mereka. Ini tak hanya susah bagiku, tapi bagi merekapun nantinya. Pada awalnya, mereka terlihat bingung dan sedih. Mereka sepenuhnya sepertiku, saat pertamakali aku mendengar kenyataan tersebut. Tak ingin membuat situasi memburuk, aku pun meninggalkan mereka. Aku juga butuh waktu untuk menerima kenyataan yang baru saja terjadi.
*****
Keesokan harinya terasa sangat berbeda. Tanpa ibu. Tanpa ayah. Ayahku tidak pulang semalam. Aku bangun lebih awal untuk menggantikan peran ibuku untuk menyiapkan sarapan untuk adikku. Kami makan dalam diam. Sepanjang perjalanan ke sekolah, hanya ragaku yang bergerak. Pikiranku melayang untuk mencari jawaban kenapa hal ini bisa terjadi. Aku terlihat seperti zombie hidup.
Lamunanku buyar karena bunyi lonceng sekolah. Selama mengikuti pelajaran juga, perhatianku tidak pada pelajaran. Hal itu berlanjut sampai sekolah berakhir. Di rumah, setelah makan siang bersama adikku, aku lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Begitu juga dengan adikku. Suara tawa yang dulu menggambarkan kehangatan dalam keluarga ini sudah tidak terdengar lagi.
Hari demi hari berlalu. Satu minggu telah berlalu. Satu bulan telah berlalu. Ibu sudah pergi sebulan yang lalu. Aku dan adikku mulai membiasakan diri dalam keadaan seperti ini. Di samping itu, kerinduan yang mendalam pada ibuku tersimpan selama sebulan yang lalu.
Pada saat aku menyiapkan makan malam,
Namun, hari ini saat tiba di rumah.Di ruang tamu sosok wanita setengah paruh baya dengan badan yang terlihat agak kurus duduk dengan enggannya di ruang tamu. Aku mengenalinya melalui aroma badan yang khas. Saat itu juga aku berlari ke ruang tamu sambil setengah berteriak “mamaaa!”. Ia berbalik dan merangkulku dengan rasa haru dan kangen yang bercampur aduk. Air mata pun tak bisa tertahan lagi keluar dari kami berdua. Untuk beberapa saat kami berpelukan. Sambil mengelus saying kepalaku ia mengajakku berbicara.
“nak, dengarkan mama baik-baik yah!” katanya.
Dengan tersedu-sedu aku mulai mendengarkan ceritanya. Setelah mendengar cerita itu mataku membulat seakan-akan tak percaya akan apa yang telah aku dengar barusan.Air mata yang tadinya telah terhenti kini mulai mengalir kembali. Seorang ayah yang selama ini selalu ku hormati, yang kukira selalu menyayangi keluarganya. Ternyata ia menjadi sosok penghancur keluarga dengan menghianati kepercayaan istri dan anak-anaknya.
“Kenapa selama ini mama menyembunyikan?” tanyaku setelah kesadaranku kembali.
“Waktu itu kau masih kecil nak. Mama juga pada awalnya tak percaya, namun….” Ia terhenti sejenak. Aku menelan ludah, khawatir akan kalimat yang akan keluar dari mulutnya. Ia membuka mulutnya dan berkata “ Mama melihatnya sendiri, papamu berdua-duan dengan wanita itu”.
Aku butuh waktu untuk mencerna apa yang baru saja aku dengar. Hatiku terkoyak mendengar kenyataan yang pahit. Apalagi mamaku yang harus menahan semua itu sendirian selama 3 tahun lamanya. Tangisanku semakin menjadi-jadi begitu pula dengan mamaku. Beberapa saat kemudian Ia mencoba menenangkan dirinya sembari berkata “nak, mana kedua adikmu?”Mama ingin mengajak kalian tinggal bersama denganku. Mama telah menemukan tempat tinggal baru untuk kita memulai kehidupan bersama.”
Mendengar itu aku pun menghapus air mataku dan bergegas mencari adikku di rumah nenekku. Pada jam begini biasanya mereka bermain di sana. Sementara mamaku mebereskan baju kami bertiga di rumah. Sesampainya dirumah nenekku aku memanggil adikku dan mengajak mereka pulang kerumah. Dengan muka kebingungan mereka mengikutiku dibelakang. Setibanya aku di rumah, ku melihat papa dan mamaku bertengkar hebat. Papa ingin agar mama dan kami tetap tinggal di sini bersamanya. Namun mama tetap bersikeras ingin mengajak kami bertiga pergi dari rumah ini. Aku dan adikku yang menyaksikan kejadian itu tak dapat menahan tangis kami. Aku sebagai yang tertua tak ingin adikku menyaksikan kejadian mengerikan ini. Oleh karena itu, ku suruh mereka untuk tinggal di luar. Saat itu juga aku maju untuk melerai pertikaian kedua orang yang dulu saling mencintai itu. Dengan nada sedikit berteriak, aku berkata “Sudah cukup, apa kalian tidak malu bertengkar di depan anak-anak kalian?” . Keduanya berbalik, sejenak mereka terpaku melihatku yang mencoba menahan tangisku. Lalu tanpa kusadari mama mengambil tanganku dan mengajak kedua adikku ikut bersama. Kulihat papa dari kejauhan berdiri terpaku. Menyesali kesalahan yang dilakukannya.
Saat kakiku melangkah masuk kemobil, ku terdiam sejenak dan berbalik. Menatap rumah kami yang dulunya menjadi tempat kami sekeluarga teertawa bersama. Kini tempat itu akan menjadi tempat yang mengingatkan aku akan kenangan buruk yang pernah terjadi di situ. Kepergian kami menuju tempat yang lebih baik diawali dengan tangisan, namun kami berharap kami akan menemukan tawa nantinya. Rahasia yang terpendam selama 3 tahun ini, telah terungkap. Rahasia yang sebenarnya persis dengan bom waktu yang kapan saja bisa meledak.
Luna menutup ceritanya dengan senyuman khas miliknya. Seketika itu juga dia mendengar suara tepukan dari seluruh penjuru kelas. Di sudut kelas ia melihat dosennya menyeka keharuan di sudut matanya. Sambil berjalan kembali menuju tempat duduknya dia berkata dalam hati “ Aku adalah titanium. Ku tidak akan mudah patah oleh masalah-masalah yang menghampiriku”.


Komentar